Senin, 02 Desember 2013

Kisah Tikus dan Kucing





Suatu ketika, hiduplah sekelompok tikus dengan damai di sebuah rumah yang ditinggalkan penghuninya. Namun suatu ketika muncullah seekor kucing yang membuat mereka cemas. Komplotan tikus ini menjadi takut untuk keluar dari sarang bahkan untuk hanya sekedar mencari makan. Keadaan yang makin menyulitkan ini membuat sekelompok tikus ini mengadakan pertemuan. Intinya membicarakan bagaimana menangani si kucing.
Saat pertemuan pun dimulai. Banyak dari mereka yang bersuara tentang bagaimana menangani kucing. Ada yang mengusulkan diracun, dibunuh, diusir, dan segala jenis usaha pemusnahan. Namun ditengah suasana yang memanas itu, ada satu tikus yang bijak memberikan masukan.
“bagaimana jika kita memberi lonceng pada si kucing, sehingga jika dia datang, kita bisa bersembunyi menghindarinya. Tanpa harus saling meniadakan keberadaan masing-masing. Kita bisa sama-sama hidup.”
Usul ini banyak disetujui oleh para tikus, karena mungkin cara ini yang paling win-win solution. Dimana keberadaan keduanya bisa tetap dijaga. Namun masalah berikutnya muncul.
“siapa yang mau memasangkan lonceng ke leher kucing?” ujar salah satu tikus.
Semua diam. Tidak satupun berani dan bahkan memberi tanggapan dan solusi dari masalah selanjutnya ini. Akhirnya rapat pertemuan tikus berakhir tanpa kesepakatan. TAMAT.
Antiklimaks sih ceritanya, tapi kadang kita semua kaya gitu. Banyak yang punya masukan dan ide brilliant dari sebuah permasalahan. Tanpa kita menjadi solusi itu sendiri. Masih rindu Gereja akan pemimpin-pemimpin yang bisa dibilang “one stop solution concept”. Dimana pemimpin kaya kita ini gak cuma bisa ngeritik, masukan dll, tapi juga bisa menjadi solusi akan permasalahan gereja  ini, atau masalah pribadi diri sendiri terlebih dahulu.